04 Ags 2026 | Dilihat: 230 Kali

LONDO IRENG

noeh21
      

Oleh: Dr. Muslimin M.

Akademisi

 

KEMARIN pagi, saya mampir di sebuah warung kopi kecil yang letaknya tidak jauh dari sebuah SMP. Warungnya biasa saja, tidak ada pendingin ruangan, hanya kipas angin tua yang berputar pelan seolah ikut menikmati pagi.

 

Di tempat-tempat seperti itu, saya sering menemukan percakapan yang lebih jujur daripada pidato-pidato panjang di ruang berpendingin.

 

Di meja sebelah, ada dua orang tua sedang berbincang. Tiba-tiba, salah seorang berkata pelan "sekarang ini banyak londo ireng".

 

Saya, tersenyum kecil. Sudah lama, saya tidak mendengar istilah itu. Rasanya, seperti membuka kembali lembaran sejarah yang nyaris terlupakan.

 

Ketika masih kecil, saya pernah mengira londo ireng adalah orang Belanda yang berkulit hitam. Belakangan saya tahu, anggapan itu keliru. Ternyata, yang dimaksud justru orang kita sendiri, Orang Indonesia.

 

Mereka, bukan penjajah. Namun, berdiri di pihak penjajah, menikmati kekuasaan yang dipinjamkan kepadanya untuk menekan bangsanya sendiri.

 

Dalam sejarah kolonial, kelompok seperti ini selalu ada. Menjadi penerjemah, mandor, kaki tangan atau pejabat lokal yang lebih loyal kepada penguasa kolonial daripada kepada rakyatnya sendiri.

 

Ironisnya, orang-orang ini sering lebih keras daripada tuannya, lebih galak kepada rakyat dan bahkan lebih bangga dan puas ketika mampu mempersulit orang lain.

 

Mungkin, karena orang-orang ini ingin membuktikan kesetiaan kepada penguasa.

 

Kemerdekaan tahun 1945, memang mengusir penjajah dari negeri ini. Tetapi, kemerdekaan tidak otomatis mengusir cara berpikir yang ditinggalkan penjajah.

 

Mentalitas itu, tetap hidup.

 

Hanya berpindah, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bukan lagi, dalam bentuk seragam kolonial. Melainkan, dalam cara memperlakukan sesama.

 

Saya mulai memahami mengapa istilah "londo ireng" masih terus dipakai hingga hari ini, tidak untuk menyebut bangsa lain. Melainkan, sebagai kritik kepada kita sendiri.

 

Sebab, sejarah ternyata tidak selalu berulang dalam bentuk yang sama. Kadang, hanya berganti pakaian dan sering tanpa sadar pelakunya adalah kita sendiri.

 

Mentalitas penjajah masih hidup?

 

Betul, belanda telah lama pergi dan bendera merah putih telah berkibar selama lebih dari delapan puluh tahun.

 

Namun, setiap kali mendengar keluhan masyarakat tentang pelayanan yang berbelit-belit, tentang jabatan yang dipakai untuk pamer kekuasaan. Atau, tentang perlakuan berbeda kepada orang kecil dan orang besar, saya kembali teringat istilah yang saya dengar di warung kopi pagi itu.

 

Londo ireng

 

Hari ini, penjajahan tidak lagi hadir dalam bentuk tentara asing. Penjajahan, hadir dalam bentuk mentalitas.

 

Mentalitas yang menganggap jabatan sebagai hak istimewa, merasa rakyat harus menunggu. Sementara, pejabat merasa berhak didahulukan.

 

Bukankah kita, masih sering melihatnya?

 

Ada orang yang datang membawa surat rekomendasi atau menyebut nama pejabatnya, lalu urusannya menjadi lebih mudah.

 

Sementara, rakyat biasa harus mondar-mandir hanya karena selembar fotokopi yang sebenarnya bisa dilengkapi kemudian.

 

Disitulah sesungguhnya, kita sedang melihat bayangan kolonialisme dalam wajah yang baru.

 

Bukan lagi penjajahan atas wilayah, melainkan penjajahan atas martabat manusia. Padahal, negara ini didirikan untuk menghapus semua bentuk perlakuan yang membedakan warga negara.

 

Konstitusi, tidak mengenal pelayanan berdasarkan status sosial. Bahkan, Undang-undang pun tidak pernah mengajarkan bahwa orang yang memiliki kekuasaan boleh diperlakukan lebih istimewa.

 

Bahwa, musuh terbesar bangsa ini mungkin bukan lagi kemiskinan dan keterbatasan sumber daya. Tetapi, mentalitas yang menempatkan kekuasaan diatas kemanusiaan.

 

Saya kemudian, teringat sebuah kalimat unik. Bahwa, penjajahan yang paling sulit diakhiri adalah penjajahan atas cara berpikir.

 

Tidak membawa senjata, tidak juga mengibarkan bendera asing. Namun, hidup di dalam kepala. Lalu, menjelma menjadi budaya yang diwariskan tanpa disadari.

 

Mungkin ada baiknya, kita bertanya kepada diri sendiri.

 

Apakah kita pernah memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi, apakah kita pernah membeda-bedakan pelayanan atau pernah merasa lebih penting daripada orang yang sebenarnya sedang kita layani?. 

 

Jika, jawabannya pernah. Maka, berarti perjuangan kemerdekaan itu sesungguhnya belum selesai. Karena, kemerdekaan bukan hanya berhasil mengusir penjajah dari tanah air.

 

Kemerdekaan, adalah keberhasilan mengusir sifat penjajah dari dalam diri kita. Dan mungkin, disitulah perjuangan yang paling berat.

 

Sebab, musuh itu tidak datang dari luar. Musuh itu lahir, tumbuh bahkan kadang dipelihara oleh bangsa kita sendiri.***