Opini
Oleh: Dr. Muslimin M.
AkademisiTULISAN itu saya temukan di belakang sebuah truk yang berjalan pelan kemarin siang sepulang dari kampus. Catnya kusam, seperti sudah terlalu sering kena hujan, panas dan mungkin juga debu jalanan yang tidak pernah benar-benar pergi.
Kalimatnya sederhana. Tetapi, menohok bagi yang membaca. Ngebut itu ibadah. "Semakin ngebut, semakin cepat sampai ke Tuhan". Saya tidak langsung tertawa. Juga, tidak langsung marah. Saya, justru diam agak lama, ada sesuatu yang janggal.
Di satu sisi kalimat itu seperti humor khas jalanan, jenis humor yang lahir dari kelelahan, tekanan dan mungkin juga rasa pasrah. Namun di sisi lain, humor itu seperti menyimpan cara berpikir yang pelan-pelan kita anggap biasa, risiko bisa dibungkus dengan keyakinan. Bahwa, kecerobohan bisa diberi nama religius. Dan disitulah, letak masalahnya.
Saya membayangkan siapa yang menulisnya, mungkin sopir truk yang sudah puluhan tahun di jalan yang hafal tikungan demi tikungan. Yang tahu kapan harus menyalip, kapan harus menahan. Atau bisa juga yang hidup dalam tekanan waktu, setoran harus masuk, barang harus sampai, bos menunggu, keluarga menanti.
Dalam kondisi seperti itu, kecepatan sering terasa seperti solusi. Padahal, justru disitulah persoalan bermula. Kita hidup di zaman yang mengagungkan cepat, serba cepat, makan cepat, kerja cepat, ambil keputusan cepat. Bahkan, sukses pun harus cepat.
Lalu tanpa sadar, "cepat" berubah menjadi ukuran utama termasuk di jalan raya. Ngebut, tidak lagi dilihat sebagai pelanggaran. Bisa jadi, sebagai keterampilan, sebagai keberanian. Bahkan, dalam kalimat diatas sebagai “ibadah”. Disinilah, logika mulai tergelincir.
Agama apa pun itu tidak pernah memuliakan tindakan yang membahayakan diri dan orang lain, tidak ada ajaran yang mengatakan semakin dekat anda dengan risiko kematian, semakin tinggi nilai spiritual anda. Yang ada, justru sebaliknya.
Menjaga hidup adalah bagian dari tanggung jawab, menjaga keselamatan orang lain adalah bagian dari etika. Dan dalam banyak ajaran, itu bahkan lebih utama daripada sekadar ritual.
Kita manusia ini memang aneh, punya kecenderungan yang aneh pula, kita sering mencari pembenaran bukan kebenaran.
Kalimat di belakang truk itu, mungkin tanpa disadari sebagai bentuk pembenaran, sebab membuat sesuatu yang salah terasa ringan. Dan mengubah kecemasan menjadi candaan, membungkus bahaya dengan ironi.
Kita yang membacanya sering ikut tertawa. Padahal kalau dipikir lebih jauh, kalimat itu seperti menertawakan kita semua.
Saya pernah menyaksikan kecelakaan di jalan. Tidak jauh dari lampu merah, tidak ada hujan, tidak ada jalan licin. Hanya satu hal, terlalu cepat. Motor tergeletak, helm terpental, orang-orang berkerumun, waktu seperti berhenti beberapa detik.
Di momen seperti itu tidak ada lagi ruang untuk humor, tidak ada lagi kalimat bijak yang terdengar cerdas. Yang ada, hanya penyesalan yang selalu datang belakangan. Dan seperti biasa, selalu terlambat.
Saya merenungi itu, bahwa mungkin masalah kita bukan pada ketidaktahuan. Semua orang tahu, ngebut itu berbahaya. Semua orang tahu, risiko kecelakaan. Namun kita sering merasa, itu tidak akan terjadi pada kita.
Itu penyakit paling umum, merasa kebal. Dan ketika rasa kebal itu bertemu dengan tekanan hidup, jadilah kombinasi yang berbahaya. Kita memacu kendaraan lebih cepat, kita menyalip lebih berani, kita mengambil risiko yang sebenarnya tidak perlu. Lalu, untuk menenangkan diri kita buat narasi “Ngebut itu ibadah".
Seolah-olah, dengan menyebut nama Tuhan, semua menjadi sah. Padahal, Tuhan tidak pernah meminta kita untuk mendekat dengan cara seperti itu.
Kalau mau jujur, yang lebih mendekatkan kita pada Tuhan justru hal-hal yang sering kita anggap sepele. Yaitu sabar, hati-hati, tidak merugikan orang lain, tidak mengambil hak jalan orang lain, tidak memaksakan diri ketika lelah. Termasuk, tidak ngebut. Karena di jalan raya, kita tidak pernah sendirian. Ada orang lain, yang punya tujuan. Ada keluarga, yang menunggu mereka pulang. Ada anak-anak, yang mungkin belum sempat pamit pagi itu.
Dan setiap keputusan kita di balik kemudi, sekecil apa pun bisa berdampak pada hidup orang lain.
Tulisan di belakang truk itu akhirnya terasa seperti cermin, memantulkan cara kita melihat hidup tentang ingin cepat, ingin instan, ingin sampai tanpa selalu memikirkan proses. Padahal, hidup bukan soal siapa yang paling cepat sampai karena semua orang akan sampai. Bedanya hanya satu, bagaimana cara kita sampai.
Dan mungkin di jalan raya, ibadah paling sederhana dan paling sering kita abaikan adalah memastikan bukan hanya kita yang selamat, namun juga orang lain. ***