03 Mei 2026 | Dilihat: 217 Kali

Mengajar Kepemimpinan Dan Amanah

noeh21
      

Opini

Oleh: Dr. Muslimin M.

Akademisi

 

SABTU pagi kemarin sekitar pukul Sembilan, waktu yang biasanya tidak bersahabat dengan Ruang Kelas. Pagi yang lebih dekat dengan bantal, kopi santai. Atau, perjalanan yang ditunda sejak senin.

 

Namun pagi sabtu itu, beberapa mahasiswa tetap datang. Tidak ramai, tidak penuh, hanya sekitar Sepuluh orang. Tapi, cukup.

 

Cukup untuk membuat saya percaya, bahwa masih ada yang memilih belajar. Ketika, pilihan lain terasa lebih nyaman. Saya berdiri di depan kelas, menatap wajah-wajah yang belum sepenuhnya lepas dari kantuk. Lalu, saya mulai.

 

“Mahasiswa sekalian, pagi ini kita belajar tentang kepemimpinan dalam manajemen,” kalimat yang sering kita dengar. Bahkan, terlalu sering sampai kadang kehilangan makna.

 

Kepemimpinan, seolah hanya milik mereka yang punya jabatan. Yang duduk di kursi empuk, yang tanda tangannya menentukan nasib banyak orang. Padahal, kepemimpinan tidak pernah sesempit itu. Kepemimpinan, dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana dan jauh lebih berat. Yakni, Memimpin diri sendiri.

 

Saya bertanya ke mahasiswa, “Siapa yang ingin menjadi pemimpin?” beberapa tangan terangkat, yang lain diam. Saya tidak heran, karena menjadi pemimpin sering dibayangkan sebagai kehormatan dan jarang dipahami sebagai beban.

 

Padahal, dalam perspektif yang lebih luas. Terutama, dalam nilai-nilai yang kita yakini. Bahwa, kepemimpinan adalah amanah dan setiap amanah, selalu datang dengan satu kata yang tidak bisa dihindari. Yaitu, pertanggungjawaban.

 

Saya tulis di papan dengan huruf besar, AMANAH. Lalu di bawahnya, TANGGUNGJAWAB.

 

Dua kata yang cukup sederhana. Namun, digunakan sering hanya berhenti sebagai tulisan, “apa bedanya pemimpin dengan yang bukan pemimpin?” saya tanya lagi mereka. 

 

Ada yang menjawab, wewenang. Ada yang bilang, kekuasaan. Ada yang menyebut, kemampuan mengatur orang. Semua tidak salah, tetapi belum cukup.

 

Saya lalu berkata pelan, “pemimpin adalah orang yang akan ditanya lebih dulu.” mereka mulai diam. Kali ini, bukan karena mengantuk. Mungkin, karena kaget. 

 

Dalam manajemen modern, kita mengenal banyak teori. Tentang perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian. Tentang efisiensi, efektivitas dan pencapaian target. Semua itu, penting. Tetapi, ada satu hal yang sering luput. Yaitu, dimensinya moral dari kepemimpinan.

 

Seorang manajer bisa saja berhasil mencapai target, angka-angka tercapai, laporan terlihat rapi, grafik naik. Namun pertanyaannya, bagaimana cara mencapainya?.

 

Apakah dengan kejujuran, atau dengan menekan. Apakah, dengan memberi teladan atau sekadar memberi perintah?.

 

Disinilah, kepemimpinan diuji. Bukan, saat semuanya berjalan baik. Tetapi, saat ada pilihan sulit.

 

Saya teringat banyak cerita di birokrasi, tentang atasan yang lebih sibuk menjaga citra daripada menjaga integritas. Tentang, keputusan yang diambil bukan karena benar. Melainkan, karena aman. Dan sering, semua itu dibungkus dengan kata, “demi lembaga”. Padahal, lembaga yang sehat tidak dibangun dari pembenaran, melainkan dibangun dari kejujuran.

 

Saya kembali ke mahasiswa dengan Pertayaan lain, “kalau suatu hari kalian menjadi pemimpin, apa yang paling kalian jaga?" Jawaban, mulai beragam. Ada yang bilang kepercayaan, ada yang menyebut keadilan, ada yang bicara tentang transparansi. Saya, mengangguk.

 

“Semua itu baik, tetapi ingat satu hal bahwa kepercayaan itu tidak datang dari pidato. Kepercayaan itu, datang dari kebiasaan.” Datang tepat waktu, menepati janji, berani mengakui kesalahan.

 

Hal-hal kecil, namun justru paling sering diabaikan. Padahal, dari situlah amanah itu mulai terlihat.

 

Dalam berbagai kasus yang ada, bahwa kegagalan kepemimpinan bukan karena kurangnya pengetahuan. Melainkan, karena rapuhnya karakter.

 

Orang tahu apa yang benar, tetapi tidak selalu memilih yang benar. Disinilah letak beratnya amanah, karena tidak ada yang benar-benar melihat kecuali diri sendiri. Dan tentu saja, Yang Maha Melihat.

 

Saya sengaja berhenti sejenak, membiarkan mereka mencerna.

 

Sabtu pagi itu tidak lagi terasa sepi, ada sesuatu yang bergerak. Bukan hanya diskusi, tetapi kesadaran bahwa menjadi pemimpin bukan tentang dilihat banyak orang. Melainkan, tentang bagaimana kita bertanggungjawab ketika tidak ada yang melihat.

 

Dalam tradisi yang kita pahami, bahwa amanah bukan hanya selesai di dunia, akan berlanjut. Akan ada saat, dimana jabatan tidak lagi berarti, dimana tidak ada lagi bawahan, tidak ada lagi struktur organisasi. Yang ada, hanya pertanyaan dan tidak semua orang siap menjawabnya.

 

Saya melihat jam, waktu hampir selesai. Namun, rasanya pelajaran baru saja dimulai. Saya tutup dengan satu kalimat sederhana, "jangan buru-buru ingin menjadi pemimpin kalau belum siap memikul amanahnya”, Mereka terdiam, kali ini lebih menyentuh. 

 

Sabtu pagi itu, akhirnya memberi saya pelajaran juga. Bahwa, mengajar bukan sekadar menyampaikan materi. Mengajar, adalah mengingatkan bahwa di balik setiap teori manajemen, ada nilai yang harus dijaga. Bahwa, dibalik setiap jabatan ada amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

 

Dan mungkin dari ruang kelas ini, akan lahir pemimpin-pemimpin yang tidak sekadar pandai mengatur, namun juga takut menyalahgunakan. Karena, mahasiswa itu tahu bahwa kepemimpinan bukan hanya soal dunia yang terlihat, tetapi tentang akhirat yang tidak bisa dihindari. ***