04 Mei 2026 | Dilihat: 246 Kali

Diantara KECURIGAAN Dan KEBENARAN

noeh21
      

Oleh : Dr. Muslimin M.

Akademisi

 

PERNYATAAN Amien Rais kembali beredar, kali ini lebih cepat, lebih luas. Dan seperti biasa, lebih panas.

 

Isinya tidak ringan, menyentuh lingkar kekuasaan. Mengarah ke orang nomor satu di negeri ini, pun juga menyerempet nama letkol Teddy Indra Wijaya. Kalimatnya cukup tajam,

terlalu tajam untuk tidak menimbulkan reaksi.

 

Dan yang menarik, bukan hanya apa yang dikatakan, tetapi bagaimana diterima. Dalam hitungan menit, publik terbelah. Ada yang langsung percaya, ada yang langsung menolak, hampir tidak ada yang menunggu.

 

Kita seperti kehilangan satu hal paling sederhana dalam demokrasi, yaitu masa evaluasi, padahal itu penting. Disitulah, verifikasi bekerja. Disitulah, akal sehat punya ruang. Tanpa itu, semua berubah menjadi refleks dan refleks jarang akurat.

 

Saya melihat pola yang berulang, bahwa setiap kali ada pernyataan keras dari figur dengan otoritas moral seperti Amien Rais, publik cenderung menganggapnya sebagai kebenaran awal. Bukan hipotesis, bukan dugaan, melainkan sesuatu yang sudah “pasti ada isinya”, ini berbahaya. Karena, otoritas moral tidak selalu identik dengan akurasi faktual.

 

Amien Rais memiliki sejarah panjang, Amin Rais pernah berdiri di garis depan perubahan, terbiasa berbicara tanpa takut. Dalam banyak momen, keberanian itu dibutuhkan. Namun, keberanian tanpa verifikasi adalah risiko. Apalagi, di era sekarang.

 

Dulu, satu pernyataan butuh waktu untuk menyebar, ada proses redaksi, ada penyuntingan, ada jeda yang secara alami menyaring emosi. Sekarang, tidak.

 

Satu video cukup, Satu potongan kalimat cukup dan pernyataan seperti ini keras. Menyentuh kekuasaan, penuh tudingan adalah bahan bakar yang sempurna.

 

Di titik ini, kritik berubah fungsi tidak lagi menjadi alat kontrol, bisa menjadi pemicu. Pemicu emosi, pemicu kecurigaan, pemicu polarisasi. Lalu, negara datang. Responsnya cepat, label pun muncul. Hoaks, fitnah, atau bentuk ujaran yang dianggap berbahaya.

 

Secara administratif, hal itu memberi kepastian. Tetapi secara psikologis, belum tentu menyelesaikan masalah.

 

Karena publik hari ini, tidak lagi sepenuhnya percaya pada satu sumber kebenaran, publik hidup dalam banyak versi realitas. Setiap kelompok, punya narasinya sendiri.

 

Ketika negara mengatakan “ini salah”, sebagian publik justru bertanya, “benarkah?”

 

Bukan karena tahu fakta yang lain, melainkan karena sudah terbiasa curiga. Di sinilah kita masuk, ke fase yang lebih dalam yaitu krisis kepercayaan. Bukan, sekadar tidak percaya pada satu tokoh. Tapi, tidak percaya pada proses itu sendiri.

 

Kebenaran tidak lagi dicari, melainkan dipilih. Dipilih sesuai preferensi, dipilih sesuai emosi, dipilih sesuai posisi politik. Saya, tidak melihat ini sebagai masalah individu, ini masalah ekosistem.

 

Kita hidup di ruang publik yang bising, semua orang bicara, semua orang ingin didengar. Tetapi, tidak banyak yang benar-benar mendengar.

 

Akibatnya, yang menang bukan argumen, tapi volume yang paling keras, paling sering, paling emosional dan itulah yang bertahan.

 

Dalam situasi seperti ini, figur seperti Amien Rais menjadi sangat efektif. Beliau tahu cara berbicara yang memicu, paham ritme publik, menguasai satu hal penting, bagaimana membuat orang berhenti dan memperhatikan.

 

Masalahnya kemudian, perhatian tidak selalu berarti pemahaman. Sering, justru sebaliknya.

 

Saya membayangkan posisi publik biasa, mungkin mereka melihat video, mendengar pernyataan. Lalu, membuka media sosial. Di sana, menemukan dua kubu yang sama-sama yakin, sama-sama keras, sama-sama tidak memberi ruang ragu.

 

Akhirnya, pilihan menjadi sederhana. Ikut salah satu. Padahal, kebenaran jarang sesederhana itu.

 

Kebenaran sering berada di wilayah yang tidak nyaman, tidak hitam-putih, butuh waktu untuk dipahami. Dan waktu, adalah barang langka hari ini.

 

Semua ingin cepat, cepat tahu, cepat menilai cepat bereaksi dan dalam kecepatan itu, kecurigaan selalu lebih unggul. Tidak butuh bukti, hanya butuh kemungkinan.

 

Saya menulis ini dengan satu kegelisahan sederhana, apakah kita masih punya ruang untuk berpikir sebelum percaya?

 

Atau kita sudah sepenuhnya menyerahkan penilaian kepada arus?

 

Karena jika iya, maka persoalannya bukan lagi pada apa yang dikatakan Amien Rais. Bukan juga, pada siapa yang dibicarakan. Melainkan, pada kita sendiri.

 

Pada cara kita memperlakukan informasi, pada kebiasaan kita yang terlalu cepat yakin dan pada ketidakmampuan kita untuk berkata bahwa, “saya belum tahu.”

 

Di antara kecurigaan dan kebenaran, seharusnya ada satu jembatan, yaitu verifikasi. Namun, jembatan itu semakin jarang dilewati. Kita lebih suka melompat, langsung ke kesimpulan, langsung ke penilaian, langsung ke emosi.

 

Mungkin, ini saatnya kita berhenti sejenak.

 

Bukan untuk diam, tetapi untuk memberi ruang bagi akal sehat. Karena tanpa itu, kita tidak sedang mendekati kebenaran. Kita, hanya sedang mempercepat kecurigaan. ***